Dermaga di tepi lautan, dengan langit pagi yang
begitu cerah dan sejuk bertutupi embun yang
menitik perlahan di dedaunan yang hijau.
Disanalah, tempat pertemuan pertama Yahya dan
Masitah. Sepasang sahabat yang selalu bersama,
namun telah tumbuh setitik cinta di hati mereka,
sepasang sahabat yang memadu cinta dalam kisah
hidup mereka. Anehnya, mereka belum menjadi
kekasih, hanya sahabat sangat dekat yang
mendekati kekasih, mereka masih belum siap
seutuhnya, tapi apa daya, Yahya harus
meninggalkan kampung halamannya dalam waktu
agak lama, ia ingin merantau ke luar daerah.
Masitah yang telah dimabuk asmara pun terdiam.
Ingin rasanya Masitah menangis, namun Yahya
meluruskan apa maksud kepergiannya. Yahya
ingin pergi mencari lebih banyak uang agar siap
menjadi kekasih yang seutuhnya. Masitah pun
akhirnya mengerti. Sejoli itu telah berjanji akan
menjadi kekasih yang seutuhnya mencintai,
Masitah pun melepasnya walaupun berat.
Waktu kian berlalu, saat bagi Yahya untuk pergi
merantau pun semakin dekat, dermaga itu menjadi
saksi janji dan kepergian Yahya ke tempat
tujuannya, ya, Yahya merantau ke negeri orang.
Merantau ke Malaysia menjadi pedagang minyak
wangi, Yahya telah menguasai berbagai macam
minyak wangi dan menguasai berbagai cara
membuatnya. Yahya dengan piawai membuatnya
dan menjualnya sendiri. Teknik dagangnya pun
tidak diragukan lagi, sudah sangat berpengalaman.
Kian waktu berlalu, Masitah pun mulai melupakan
janji antara dirinya dan Yahya, seorang pemuda
kaya bernama Halim yang berasal dari luar daerah
dan baru saja pindah untuk tinggal di sudut daerah
karena kepentingan bisnis ayahnya telah mencuri
hatinya lewat kekayaan dan pesona wajahnya
yang tampan, kekayaannya sebenarnya hanyalah
berasal dari, Masitah pun tak mampu menahan
rasa yang diberikan Halim hingga mereka menjadi
kekasih pula. Masitah telah mengkhianati janjinya
dengan Yahya demi uang dari Halim.
Setelah sekian lama, Yahya pun kembali dan
membawa berpundi-pundi emas dan berbagai
barang mahal lainnya, ia sukses dirantau, sangat
sukses sampai-sampai memiliki cabang di berbagai
daerah. Yahya yang kembali ke kampung
halamannya langsung mencari Masitah, ia bertanya
pada banyak orang di alun-alun, hingga suatu
waktu ada yang mengatakan bahwa Masitah
sedang bermesra dengan seorang pemuda kaya,
namun, betapa hancurnya hati Yahya ketika
melihat Masitah berada di dalam pelukan Halim dan
sangat mesra, Yahya pun berteriak lantang
mengejutkan banyak orang.
"Masitah! Siapa dia!"
Masitah pun terkejut, seingat Masitah, Halim telah
mengatakan bahwa Yahya telah meninggal di
rantauannya. Halim pun meyakinkan Masitah
bahwa Yahya telah mati. Lalu Masitah berteriak
membalas
"Kau bukan Yahya! Yang kukenal lebih sederhana!"
Seraya melihat pakaian Yahya yang tampak sangat
mahal dan jarang dilihat. Yahya pun berteriak
kembali.
"Tapi aku Yahya! Aku telah sukses!"
Masitah berteriak lagi
"Yahya yang ku kenal telah lama mati! Kau bukan
Yahya! Sekarang aku milik Halim"
Yahya langsung terkejut, tak sadar diri lagi dan
pergi berlari mengeluarkan belatinya dan
berkeinginan untuk menancapkan belatinya di
jantungnya sendiri karena tak tahan akan
pengkhianatan yang ia terima, namun hal itu
dicegah oleh banyak orang, mereka membawa
Yahya ke sebuah rumah di sekitar alun-alun.
Masitah yang dimabuk cinta terus bersama Halim
sampai sore habis berganti malam.
Namun, malang menimpa ayah Halim, ayahnya di
bunuh dan semua hartanya dicuri oleh
sekelompok pencuri yang sudah lama mengintai
ayah Halim, Halim pun tak kuasa menahan malang
ini sampai-sampai dia menjadi gila dan berlarian
kesana kemari. Masitah yang mengetahui kejadian
ini langsung mencari Yahya yang tadi ada di
rumah sekitar alun-alun tersebut. Masitah sungguh
terkejut setelah mendengar Yahya telah pergi ke
desa sebelah untuk menjauhi Masitah. Masitah
sangat menyesali perbuatannya yang
menganggap Yahya telah mati. Ia telah ditipu
mentah-mentah oleh Halim. Masitah tak tahu harus
berbuat apa, Yahya pun tak tahu lagi di mana
sekarang, kabarnya Yahya telah pergi sejak siang
lalu sehingga mungkin telah sangat jauh dari
tempat Masitah sekarang ini.
Masitah yang meratapi nasibnya yang hancur
karena kesalahannya kini menyesali perbuatannya,
dia tak tahu harus bagaimana, kini, dia menangis
tersedu tanpa henti dari malam hingga ke malam
kembali dan dianggap orang stres oleh masyarakat
sekitar.
Janganlah engkau khianati janji
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar